Tuesday, 25 August 2009

Teman Istimewa

Tak pernah sebelumnya aku mengalami hal ini dan aku juga tidak pernah menyangka bahwa seorang diriku, bisa mengalami hal sepert ini juga. Kemarin dulu, meskipun pernah beberapa kali jatuh cinta, tak pernah sebelumnya seperti ini.

Dulu aku bisa mencintai seseorang, tapi aku bisa dengan mudahnya mengontrol diri. Suka ya suka, kalau dia tidak memberikan tanda – tanda bahwa dia merasakan hal yang sama, aku sama sekali tidak akan memperdulikan perasaanku itu lagi. Sifatku yang cuek, super dingin ini membuatku dengan mudahnya untuk tidak memperdulikan semua itu. Bahkan tak pernah sekalipun aku melakukan pendekatan sedikitpun demi mendapatkan orang yang kucintai. That’s why, aku tak pernah bisa pacaran dengan orang yang aku suka.

Tapi kali ini berbeda.mungkin karena orang yang disukai adalah orang yang polos. Tidak tahu kenapa, aku jadi berubah 180. Aku yang dulunya selalu menghindari orang yang aku suka, sekarang malah berani mendekati. Bahkan aku bisa, dari teman biasa jadi teman dekat. Yah, sangat berbeda.

Namun, sekarang aku sudah kembali ke aku yang dulu, aku yang asli. Dan aku tidak akan pernah begitu lagi. Karena biarpun aku melakukan cara yang berbeda dalam menyukai orang lain, hasilnya tetap saja sama. Memang aku bisa menjadi teman dekatnya, tapi yah sebatas itu saja. Dia juga pernah menyukaiku, tapi ternyata hanya suka sesaat. Jadi, sama saja kan? Haha, selalu saja teman – temanku bilang aku payah dalam percintaan. Setiap menyukai seseorang aku terlalu cuek. Tapi sekarang sudah ada bukti nyata. Tidak cuek pun, sama saja hasilnya.

Dia itu seorang teman yang istimewa. Dia mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan. Dia juga mengajarkan aku menjadi kuat dan menyadari segala hal yang ada di sekelilingku. Aku tak pernah bisa membuka inderaku lebar – lebar, sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Yah, aku senang sekali punya teman dekat seperti dia. Saat ini, aku pikir, tidak jadi milikku pun taka pa. mungkin memang dia ditakdirkan untuk dating ke kehidupanku, dan menjadi teman yang mengajarkanku banyak hal.

Aku dan dia sama – sama memiliki impian. Aku hampir saja melupakan impianku itu selama beberapa saat, saat perasaan cintaku menguat padanya. Tapi dia juga lah yang telah membuatku ingat kembali pada impianku. Aku sudah bertekad. Aku takkan memikirkan hal – hal tidak penting (seperti cinta) sebelum meraih impianku. Jadi, yah, aku yang dulu telah kembali. Aku yang dingin, dan hanya memikirkan impian – impianku! He9x…

Saturday, 25 April 2009

AKU TAK SUKA DIFITNAH!!

Ya, kalau lihat judulnya, pasti sudah tahu apa yang sedang ingin aku bicarakan. Masalah terbesar dan yang akan membuatku benar – benar jatuh dari ketinggian, yaitu fitnah. Semenjak masuk SMA aku baru benar – benar tahu bagaimana rasanya difitnah. Bertubi – tubi pula. Rasanya tidak habis – habis. Dan itu menyebabkan aku rapuh luar dalam, tak bisa mengontrol diriku sendiri.

Kadang orang berkata, kalau terlalu tertutup malahan suatu hari nanti akan ada saat dimana perasaan yang selama ini ditutupi itu tak bisa tertahankan lagi dan semuanya keluar. Seringkali hal itu terjadi di saat yang tidak tepat, jadi keluar ke orang yang salah. Mungkin seperti saat ini.

Selama dua tahun ini tidak tahu apa – apa, tiba – tiba semua terbongkar dan terasa sakit sekali. Selama dua tahun ini ternyata aku sangat sering difitnah, dari hal yang sepele, sampai hal yang besar, yang menyebabkan image orang terhadapku jadi buruk. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh satu orang, yang sesungguhnya sangat berarti bagiku. Aku tak bisa bohong kalau aku sama sekali tidak peduli pada semua itu. Biarpun dingin dan tertutup, lalu bersikap cuek pada segala hal, tapi aku bukan seseorang yang mati rasa. Dalam hatiku, rasa sakit itu benar – benar terasa, luka yang sangat mendalam. Dan itulah yang mengganggu pikiranku terus – terusan. Kadang aku tak bisa tahan dan ingin mencari seseorang untuk berbagi. Tapi, aku tahu, aku yang tertutup sangat sulit bisa menceritakan apa yang aku rasakan pada orang lain. Tidak tahu apa yang salah, aku yang bodoh, atau memang tak punya kemampuan untuk itu, aku selalu gagal menyampaikan perasaanku pada orang lain. jangankan teman baik, bahkan keluarga pun kadang tak bisa mengerti. Pernah beberapa kali aku menceritakan beberapa hal pada mereka. Lalu mereka menganggap aku ini tipe manusia manipulatif yang menceritakan hal – hal mengenai diriku, yang kelihatannya begitu kasihan, sesungguhnya aku hanya mengarang saja. Mereka malah takut aku lama – lama bisa jadi gila gara – gara sifat “manipulatif”-ku ini. sedikitpun mereka tak pernah mau tahu, tak mau menanggapi, kalau yang aku ceritakan itu benar – benar dari dalam perasaanku.

Hari ini, puncak segala – galanya. Segalanya semakin terkuak. Semua mengenai fitnahan yang dilontarkan orang itu padaku. Dan itu membuat luka di hatiku semakin lama semakin dalam, semakin terasa sakit. Aku ingin berteriak, tapi aku benar – benar takut dikira gila. Mau aku ceritakan juga aku tak bisa. Lalu sekali aku melakukan kesalahan yang tak sengaja kulakukan, aku dimarahi keluargaku. Aku sudah jelaskan, tapi mereka terus – terusan memarahiku. Aku tahu maksudnya menasehatiku, tapi mereka menasehati karea menganggap aku ini benar – benar orang dungu yang pasti selalu melakukan kebodohan itu secara sengaja. Aku sangat tidak tahan. Itu, tak ada bedanya sama sekali dengan fitnah. Merka memfitnah! Mereka tak mau dengar penjelasanku. Anaknya yang gila ini selalu tak punya alasan yang kuat. Yah, itu menurut mereka. Dan, yah, salahlah semuanya. Aku tak tahan. Aku marah. Aku marah karena panah fitnah sepertinya selalu datang menghampiriku. Semuanya keluar begitu saja, tak bisa kukontrol diriku sendiri. Sialnya aku malah berkata “aku paling tidak suka dibilang melakukan hal yang tidak kulakukan, aku tak suka!”, yah bodoh sekali, Indira Melik. Kau bodoh. Aku yakin sekarang aku benar – benar disangka gila oleh keluargaku. Anak gila yang kerjanya hanya marah – marah karena masalah sepele.

Sekarang semuanya serba salah. Jadi orang yang terbuka seperti aku yang dulu, aku yang asli, akan mendatangkan bencana bagiku. Tapi menjadi tertutup malah dikira gila. Lalu, aku harusnya jadi yang seperti apa?

Keuntungan di Balik Kejahatan

Aku sungguh tak mengerti apa yang pernah terjadi di kehidupanku yang lalu sehingga pada kehidupan ini, sekarang ini, harus berhadapan dengan berbagai masalah rumit yang ternyata bersumber dari satu orang. Kalau saja aku punya Pubenivasanussatinanna, aku sangat ingin melihat apa yang terjadi di kehidupan yang lalu dan aku yakin aku akan mendapatkan jawaban dari semua yang terjadi sekarang ini. sayangnya, aku hanya seorang umat awam yang tak punya sedikitpun jhana untuk melihat semua itu.

Seseorang, yang hampir dua tahun sangat dekat denganku dan memiliki arti yang sesungguhnya sangat penting untukku, malahan ternyata adalah biang dari segala masalah yang selalu bertubi – tubi terjadi dua tahun belakangan ini.

“Indira itu tak punya teman, dia itu disebelin teman – teman sekelas, teman baiknya itu juga semua orang – orang kasar yang suka berteriak – teriak, sangat menyeramkan, dia itu jahat sesungguhnya, hatinya jahat. Aku sangat kasihan padanya, makanya aku mau berteman dengannya dan bersabar dengannya.” Itu yang dia katakan pada orang – orang. Dia ini seseorang yang sangat persuasif dan sangat lihai membuat orang percaya pada semua omongannya. Saat aku masih buta dan dekat dengannya, lalu sepenuhnya percaya padanya, aku ini benar – benar diyakinkan bahwa aku adalah seorang menyebalkan yang berkarma buruk, maka dari itu sangat banyak orang yang tidak suka padaku dan teman – teman yang dekat padaku sesungguhnya hanya karena kasihan padaku. Aku juga diyakinkan untuk menjauhi beberapa orang yang tadinya tak terlalu dekat denganku dan katanya mereka jahat padaku. Yah, saat itu aku memang sangat bodoh, tapi kenapa juga harus ada orang seperti itu di dunia?

Pada detik ini dia akan mempublikasikan kata – kata itu ke semua orang, lalu pada deitk yang sama pula dia akan mengatakan padaku bahwa si A atau si B atau si C atau siapapun itu berbuat banyak hal yang jahat padaku. Sesungguhnya apa keuntungan yang dia dapat dari itu semua? Apa? Aku sangat ingin bertanya padanya, tapi bagaimana? Aku terlalu bodoh dan tertutup untuk mengungkap kenyataan.

Saturday, 4 April 2009

---

Tak pernah sebelumnya aku merasa kalau diriku ternyata begitu tidak tahu apa – apa. Entah yang mana yang harus disalahkan. Apakah waktu, tempat, atau situasi yang harus disalahkan? Atau malah diri sendiri? Tidak tahu, dan mungkin sampai selamanya tidak akan pernah tahu.

Pernahkah kau merasa bahwa ternyata kenyataan yang selama ini kau yakini benar ternyata malah sesuatu yang salah dan ketidaktahuanmu itu sangat fatal? Kalau kau tak pernah (mungkin saja), aku pernah, baru – baru ini.

Selama 2 tahun aku ketahui suatu kebenaran, kenyataan yang aku yakini, mempercayai apa yang tampaknya sangat tepat untuk dipercaya, dan merasa enggan mendekati sesuau yang tampak merugikanku. 2 tahun, dan sekarang apa yang benar kelihatan berbalik menjadi sesuatu hal yang salah, apa yang salah malah bisa saja menjadi benar. Sesungguhnya dunia ini yang memang terbalik? Atau aku yang berotasi dan berdiri di atas kepalaku tanpa aku sadari?

Aku pernah diberi tahu suatu kenyatan yang merugikanku dan sejak saat itu aku menjauhinya. Lalu aku mempercayai sesuatu hal yang telah membuatku sadar dan percaya akan keberadaan kenyataan itu. Tapi sekarang? Apa? Yang aku percaya kok kelihatannya tidak patut dipercaya?

Aku harus percaya siapa sesungguhnya? Adakah sesuatu hal di dunia ini yang bisa dipercaya?

Sekarang aku makin mengerti kenapa ada orang berkata aku miliki dunia sendiri bagaikan seseorang yang memiliki kepribadian ganda ataupun seseorang yang autis. Aku juga mengerti kenapa orang tua berkata aku ini gila. Kali ini aku tidak akan menyangkal segala itu. Aku tidak akan berteriak dalam hati “AKU TIDAK GILA” ataupun “AKU INI NORMAL, TIDAK ANEH SAMA SEKALI”. Tidak lagi, karena tampaknya aku tidak tahu apa – apa tentang dunia. Jadi mungkin saja mereka semua benar. Aku tidak tahu.

Tapi apakah bisa salahkan aku? Haha, hai, asal tahu saja, tidak bisa begitu saja salahkan aku. Aku gila, aku aneh, aku tertutup, aku tidak bisa dimengerti, kenapa itu semua? Karena masalah datang bertubi – tubi, masalah yang sama. Selalu, aku berteman, aku percaya, aku dikhianati, aku difitnah. Aku rasa, tidak akan ada orang yang hidupnya jauh lebih menyenangkan daripada aku di dunia ini.

Wahai teman – temanku, yang hanya kalian satu – satunya yang bisa aku percaya, jangan bingunglah padaku yang kalian pikir tertutup ini. Tidak usah pula kalian memikirkan caranya agar aku terbuka lagi dan kembali seperti aku yang dulu lagi. Tidak, tidak akan. Dunia ini terlalu menyedihkan untuk aku percayai. Aku hanya akan menjadi tertutup dan dingin untuk selamanya. Indira yang dulu itu, yang selalu tersenyum dan ceria dari hati yang tulus, mungkin haruslah kalian ucapi selamat tinggal, karena yang ada sekarang hanyalah aku yang tertawa kencang dengan hati hampa.

Tuesday, 10 March 2009

Aku Hanya Ingin Didengar, Selebihnya Terserah Kalian, Tapi Jangan Potong Pembicaraanku!

Aku tidak tahu, tidak mengerti, dan mungkin akan selamanya tidak mengerti, dan juga tak mau mengerti sesungguhnya apa itu keadilan. Yang aku tahu dan aku mnegerti adalah bahwa di dunia ini kau takkan pernah bisa bertahan hidup kalau hanya memikirkan keadilan. Malah kalau terlalu memperdulikan keadilan, lama – lama malah akan tersingkirkan.

Selalu, selalu saja, aku memperjuangkan hakku untuk didengar. Aku tadinya mengira, seseorang yang sangat tertutup dan tidak pernah berani menyatakan apa yang dipikirkan dan dirasakannya harusnya mempunyai tempat istimewa untuk didengarkan ketika ia mulai bicara. Namun tampaknya aku salah. Justru karena pikiran itulah aku jadi terbuang ke kerumunan sampah. Tak ada yang mau mendengar, bahkan hal yang benar2 harus didengar pun takkan pernah didengar. Seseorang yang tertutup, yang tiba – tiba bicara hanya akan dipotong pembicaraannya lalu orang yang bertindak sebagai pendengar hanya akan berkata, “Aku tidak tahu, pokoknya aku tahunya begitu”. Ya, sangat bagus, hebat sekali.

Semakin lama, aku semakin tidak bisa membedakan, sosok yang bagaimana, yang hidup di dunia ini, yang menjadi sosok pribadi yang baik. Apakah orang yang selalu menceritakan isi hatinya dan didengar setiap orang? Atau bagaimana? Aku dulu mungkin adalah orang yang sangat terbuka, menceritakan apapun kepada siapapun. Namun setelah waktu berubah, akupun berubah. Segala yang terjadi menyadarkan aku kalau tidak akan pernah ada gunanya menjadi orang terbuka. Menceritakan segalanya kepada siapapun hanya akan membawa bencana bagi diri sendiri. Namun, saat ini, setelah aku menjadi tertutup, aku menyadari kalau jadi seorang yang tertutup juga tak ada gunanya. Hanya akan diinjak – injak. Saat kau bicara maka semua orang akan menganggap pembicaraanmu tidak penting, pembicaraanmu hanya mengarang saja, dan orang – orang akan anggap kau gila. Mungkin itulah yang dipikirkan semua orang padaku sekarang. Terutama keluargaku. Memang, aku pernah bertekad untuk tidak bicara apapun lagi pada siapapun, termasuk mereka. Tapi dalam situasi tertentu, aku memang harus bicara. Dan dipotong, dengan seenaknya saja. Mungkin pada situasi tertentu, dimana aku melakukan kesalahan, haruslah aku diam. Tapi aku juga perlu menjelaskan sesuatu. Misalnya apabila kesalahan itu dikait – kaitkan pada kesalahan yang sama sekali tidak aku sentuh, namun mereka mengira aku menyentuhnya, mungkin salah lihat atau apa, tapi tetap saja aku tak boleh bicara. Mungkin karma burukku di kehidupan lampau sangat terlampau banyak, sehingga aku jadi buruk di mata semua orang di kehidupan ini.

Aku memang begini, tapi sedikitpun aku tidak gila. Keluargaku mungkin mengira aku ini tipe manusia sentimental yang menganggap dunia sebagai suatu hal yang menakutkan dan merasa diri sendiri adalah manusia paling kasihan di dunia, sehingga aku jadi begini. Makanya mungkin saja mereka menganggapku gila. Tapi tidak, kalau saja aku boleh katakan pada mereka. Semua ini juga karena alasan. Mereka bisa punya alasan dalam hal apa saja, tapi kenapa tak ingin tahu alasanku. Pelajaran yang luar biasa membuatku stress dan selalu pusing kepala, dan aku harus bertahan dalam kondisi ini selama tiga tahun (kalau lancar). Belum lagi tugas – tugas kelompok sekolah yang kerap kali harus aku sendiri yang memikul bebannya dan pusing sendiri karena teman – teman kelompokku yang sesungguhnya lebih pintar dari aku itu tinggal berkata, “Aku tidak bisa apa – apa.” Lalu meninggalkan tugas itu begitu saja. Belum lagi meladeni sejuta orang munafik yang di hadapanku selalu berkata, “Nilaiku jelek sekali” lalu membanding – bandingkan nilaiku dengan nilainya yang sesungguhnya lebih bagus dari nilaiku dan kemudian akan berlaku stress setengah mati, di hadapan orang yang jauh lebih bodoh darinya. Ada lagi saat diaman aku harus mengambil mata kuliah yang sesungguhnya tak benar – benar aku sukai. Itu hanya soal kecil mengenai sekolah yang kalau tidak aku pikirkan tidak akan jadi masalah. Belum lagi yang benar – benar masalah. Mempunyai beberapa teman yang tukang fitnah, lalu beberapa kali menjadi korban tukang fitnah tersebut. Itu berkali – kali, maka dari itu aku jadi sangat tidak suka saat ada orang yang mengatakan kesalahan yang sesungguhnya tidak aku perbuat. Tapi siapa yang mengerti. Kalau aku ceritakan ini semua kepada satu orang saja di dunia, aku akan benar – benar dikira gila.

Memang sangat sulit, bagiku, kalau dilihat – lihat. Aku tak punya orang tua yang tahu bahwa anaknya marah – marah disebabkan karena stress seperti orang tua dari temanku, si penggemar binatang kartun kuning kedua puluh sembilan. Aku juga tidak punya keluarga yang bisa mengerti dengan sedikit penjelasan dan penekanan mengenai apa yang aku inginkan seperti keluarga si penggemar binatang kuning ketiga puluh lima. Tidak, aku tak miliki semua itu. Yang aku miliki hanyalah keluarga yang berpikiran anak sekolah tidak mungkin stress (padahal mereka tidak sadar dimana mereka menyekolahkan anaknya) dan berpikiran kalau pandangan mereka selalu benar, tak pernah salah. Mereka juga berpikiran kalau penglihatan mereka selalu benar, tidak pernah salah, sehingga apa yang aku katakan, apabila berlawanan dari yang mereka lihat, itulah suatu kesalahan. Lalu keluargaku juga terlanjur menganggap aku manusia aneh yang berpikiran aneh, sehingga mereka selalu takut aku lama – lama jadi gila. Tapi maaf saja, AKU SANGAT NORMAL, SEDIKITPUN AKU TIDAK GILA.

Aku hanya berharap suatu hari nanti aku benar – benar bisa melihat sesuatu dengan benar. Maksudku, sesuatu dengan benar dan benar – benar benar di depan semua orang. Karena saat ini aku merasa aku punya cara pandang yang berbeda dari orang lain. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa berpandangan sama dengan orang lain, sehingga tak perlu dianggap gila atau tidak normal lagi oleh orang – orang yang tidak tahu apa – apa itu.

Thursday, 15 January 2009

Pernah Datang Lagi

Sangat banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita mengerti. Terkadang, orang di sekeliling kita membuat kita bingung dan heran kenapa dia begitu, karena sesungguhnya alam pikiran orang berbeda-beda. Maka dari itu, manusia yang satu tidak bisa mengerti pikiran manusia yang lainnya.

Seperti aku yang tidak bisa memahami pikiran sesorang. Dia adalah seseorang yang muncul di saat kegelapan dalam hidupku semakin menguat, sebagai seorang pangeran berkuda putih. Dia muncul, seolah-olah tulus. Dekati aku, katakan segala yang indah, dan meyakinkan aku akan ketulusannya. Lalu aku mempercayainya, tanpa bisa melihat kejelakannya. Perlahan-lahan barulah aku menyadari bahwa dia adalah orang yang sangat pandai memandang rendah orang lain, menganggap dirinya tinggi, dan selalu merasa dirinya benar dan harus selalu menang. Lalu karena dia pikir dirinya sangat hebat, sangat tinggi, dia berpikir kalau dia bisa seenaknya dalam memiliki cinta.

Aku, yang kalau terlanjur mencintai seseorang akan mencintai dengan sepenuh hati, pernah terlanjur mencintainya. Selama 7 bulan dia tunjukkan ketulusan luar biasa. Sampai akhirnya, semua sifat jeleknya mulai keluar. Dia mulai marah-marah karena aku membalas pesan singkatnya dengan sangat singkat, dia marah kalau aku bersikap dingin, padahal sama sekali dia tidak tahu kalau dingin adalah sikap yang selalu aku tunjukkan pada lawan jenis, tidak peduli dia adalah pacarku, ayahku, kakekku, atau apapun itu. Setelah berpisah, dia katakan masih ingin berteman, tapi seringkali kami bertengkar karena dia menganggap dirinya terlalu tinggi dan harus disembah. Waktu itu, pikiranku masih belum terbuka, masih sangat menyayanginya sesungguhnya. Bahkan pada saat dia katakan bahwa dia menyukai temanku, dan ingin aku membantunya, padahal dia tahu jelas aku masih ada perasaan padanya, aku tetap membantunya. Lalu tidak sampai dua minggu dia katakan dia menyukai temanku yang lain lagi. Lalu aku bantu lagi (mungkin semua orang akan menganggap orang gila ini benar-benar bodoh). Sampai akhirnya semua yang dikejarnya tak didapatnya, dia kembali katakan padaku kalau dia sesungguhnya masih sangat menyayangiku. Mulailah aku sadar, dia seperti menganggapku seperti tong sampah. Sejak saat itu, perlahan-lahan, aku terus menemukan kejelekannya yang membuatku “ilfil”.

Tidak berapa lama sebelum ini, dia mencariku lagi. Berkata bahwa masih memikirkanku. Lalu berkata pada temanku mengenai hal itu, agar temanku membujukku untuk mau menerimanya lagi. Tapi maaf saja, aku sudah bukan gadis bodoh pada waktu itu lagi. Aku yang sekarang, yang telah semakin dingin, tidak akan pernah mau kembali lagi padanya. Berikut ini adalah lagu yang mengisahkan isi hatiku yang sangat ingin aku katakan padanya.

2 Yue 30 Hao Jian - Fahrenheit

dian hua na tou chuan lai ni de wen hou
(telepon berdering, menunjukkan pesan darimu)
tai du ai mei shuo ni huai nian wo de wen rou
(dengan lembut kau katakan kau rindu pada kelembutanku)
na shi hou duo shao ci ni yi tong yang li you
(pada waktu itu, telah berapa kali kau menggunakan alasan yang sama)
yue wo dao wai mian man you
(untuk mengajakku keluar)


hao jiu bu jian shuo yao he wo xu jiu
(sudah lama tak mendengar kau ingin bersua denganku)
jiu yue zai qu nian fen shou na ge jie tou
(kau mengajakku pergi ke jalan dimana kita berpisah tahun lalu)
zhe shi hou ni de xiang fa dao di shen me nian tou
(pada waktu ini, sesungguhnya apa yang ada dalam benakmu?)
shi yao wo jie shou hai shi xiao zhe lei liu
(ingin aku menerimanya, atau tersenyum sambil berlinangan air mata)

jiu yue hao er yue san shi hao jian
(maka marilah kita bertemu pada tanggal 30 Februari )
lai kan wo bei ni zhong shang zhi hou shi ru he fu yuan
(kau akan lihat bagaimana aku sembuh dari luka yang telah kau berikan itu)
rang wo men er yue san shi hao jian
(biarlah kita bertemu pada tanggal 30 Februari)
jiu ru ni suo yuan ru guo zhen de you na me yi tian
(semuanya terserah padamu bila memang ada hari itu)
fou zi qi ta shi jian wu li hui gu cong qian
(mungkin saja waktu yang lainnya tidak akan bisa kembali pada masa yang lalu)
qing rang wo ci di he ni hua qing jie xian
(maka persilahkanlah aku merencanakan siswa waktu yang lainnya)

yong jing ban fa yao ba guo qu shan diao
(aku terus memikirkan cara bagaimana menghilangkan masa lalu)
hai you yi dian ai ni cha dian bei ni dong yao
(masih ada sedikit perasaan padamu membuatku hampir tergoyahkan)
xin zai tiao zhe yi qie leng bu fang de da rao
(jantung terus berdegup, semua ini benar-benar gangguan untukku)
hai hao mei luan le chen jiao
(untungnya, tak mengacaukan segalanya)

hui yi hai quan zhe yi bi cai gou xiao
(dalam kenangan masih ada hutang yang harus dibayar)
hen bao qian shang kou yi ran guo zhe shi gao
(maaf sekali, luka itu tiba-tiba terbuka lagi)
xiang bu dao bu gan huan xiang wo men zai ci yu dao
(tak terpikirkan, tak berani memikirkan di saat kita kembali bertemu)
yao zhen me yong bao cai neng biao shi you hao
(harus bagaimana, agar bisa menunjukkan sikap berteman yang baik)


yuan lai shi wo bu xiang hua xia ju hao
(ternyata akulah yang memang tidak mau menyisakan tanda)
yuan lai bao fu shou zai xin li bu xiang diu diao
(ternyata semuanya aku simpan dalam hati dan tak ingin ku buang)
wo zhi dao bu guan zi ji duo dao tian ya hai jiao
(aku tahu, tidak peduli sampai mana aku bersembunyi)
zhe ge shi jie na me xiao zhong hui yu dao
(dunia ini sangatlah kecil, suatu hari pasti bisa bertemu)

Berhenti Bicara

Aku tak tahu apa memang ada yang salah pada diriku, atau memang sebenarnya berbicara adalah hal yang salah di dunia ini. Namun yang bisa dipastikan adalah, mulai hari ini, berbicara sudah bukan sesuatu yang bisa aku anggap hal yang baik lagi.

Aku ini seorang perempuan yang sebenarnya sangat suka bicara. Aku bawel, aku suka bercerita apa saja kepada orang yang sangat dekat denganku (menurutku). Meskipun sesungguhnya aku jarang menyampaikan apa isi perasaanku pada siapapun, meskipun yang ku ceritakan itu tidak penting, namun aku tetap suka bicara. Kesukaanku pada berbicara membuatku bisa merasa dekat dengan orang lain, apalagi keluargaku.

Jangan katakana aku aneh, kalau mulai hari ini aku tidak mau suka bicara lagi seperti dulu. Aku tak mau merasa sangat dekat pada siapapun lagi sekarang. Ketika aku merasa dekat kepada seseorang, aku akan merasa nyaman berbicara dengan orang itu, dan perlahan-lahan aku akan mengeluarkan apa yang selalu ada dipikiranku, apapun yang kurasakan. Tapi siapa sangka, bahwa ternyata kalau aku menceritakan kesukaanku, aku malah jadi tidak dimengerti.

Tidak tahu sesungguhnya aku memang gila, sampai tak ada yang bisa mengerti aku. Semua pikiran baik jadi buruk, semua yang positif menjadi negatif, semua yang menurutku benar jadi salah. Mungkin memang benar aku gila, jadi siapapun tak ada yang mengerti aku.

Tidak tahu apa mungkin karena aku sesungguhnya tidak memahami dunia, hingga alam pikiranku terbalik dari kenyataan yang sesungguhnya.

Tidak tahu, apa mungkin sebenarnya tidak ada yang mau mengerti aku. Mungkin aku dekat dengan mereka hanya karena ikatan darah. Sesungguhnya, kalau tak ada ikatakn apapun, mungkin aku hanya sebuah sampah.

Aku tidak mengerti, yang jelas, selalu saja aku yang tertutup ini, dipaksa untuk selalu tertutup.

Senin, 12 Januari 2009

Aku tidak pernah tahu kenapa hari ini harus selalu terulang, lagi dan lagi. Belakangan ini, karena Ibuku yang pergi ke luar kota selama 2 minggu, dan 2 minggu kemudian aku pergi ke luar negeri, membuat aku punya banyak waktu untuk bersama dengan kakakku. Semakin lama aku sangat yakin bahwa aku sangat dekat dengan kakakku, dan aku yakin dia pasti mendengarku. Karena itu, aku selalu memikirkan bagaimana supaya tidak menyusahkannya. Tapi ternyata segala yang kupikirkan salah. Yang aku pikir akan mengentengkannya malah menyusahkannya.

Aku katakan bahwa aku yang tadinya memang ingin sekali mengambil sebuah jurusan di perguruan tinggi nanti, namun tidak kesampaian, kembali diyakinkan kembali pada guruku yang semula meragukan keinginanku itu. Dia katakan, asal aku mengejarnya, aku akan menggapainya. Aku katakan pada kakakku. Dia diam, dan memang selalu begitu. Justru diamnyalah yang membuat semuanya terlambat. Saat aku tahu tak mungkin aku masuk musik, aku katakan aku ingin mengambil jurusan A. Dia diam. Lalu setelah semua tawaran beasiswa jurusan yang selama ini dia ingin aku mengambilnya telah tutup, baru dia berkata kalau dia tidak setuju. Lalu aku mencari lagi, terus memutar otakku. Lalu aku katakan aku mau mengambil B, dia diam. Lalu dia tidak setuju lagi. Aku semakin yakin kalau lama-lama, sampai di Gradnite nanti, ketika semua teman-teman telah tahu kemana tujuan mereka, aku hanya akan tertawa dan berkata “Aku tidak tahu”. Semakin aku takut, semakin kesal Ibu dan Kakakku. Lalu dengan kesal mereka katakan “Ambillah sesuka hatimu”, di saat pendaftaran untuk universitas yang aku inginkan telah tutup. Aku sudah putus asa, sampai akhirnya aku putuskan untuk mengikuti apa saja keinginan mereka. Lalu kembali aku dibuat goyah, dengan bertanya-tanya kalau aku mengikuti keinginan mereka yang sebenarnya susah itu, apakah aku bisa, dan mereka meragukan kemampuanku. Aku tak mengerti mengapa mereka begitu. Mungkin sebagai siswa terbodoh di sebuah sekolah favorit, aku pantas diragukan. Aku pikir, apa mungkin lebih baik aku mengikuti kata hatiku saja. Lalu aku diserang lagi. Aku lelah, sangat lelah. Aku tidak mau memikirkannya lagi.

“Apa sih yang kau pusingkan? Sudahlah, ambil saja apa yang aku katakan.” Kata kakakku.

“Mahal…” kataku, lalu aku langsung dicercanya. Dia bilang tidak suka aku berkata begitu.

Aku tidak mengerti, setiap kali aku katakan pikiranku, pasti keluargaku tidak mau mengerti. Merka menganggap aku adalah orang bodoh yang sedang bicara. Sehingga apa yang aku pikirkan, yang sebenernya memikirkan mereka, dicerca. Merka malah katakan kalau aku begini terus aku akan gila. Yang memang, mungkin aku punya kelainan jiwa yang tidak terlihat, namun sebagai keluarga mereka mengetahuinya. Tapi mereka juga sesungguhnya tidak boleh memarahi orang yang sedang memperhatikan mereka, meskipun orang itu gila.

Aku tahu keuangan keluargaku sulit. Ibuku selalu mengatakan padaku. Pinjam sana sini, mati-matian jual makanan untuk menuntupi kerugian dalam usaha Ayahku, dll. Kakakku yang berpenghasilan itu memang selalu direpotkan. Ibu selalu mengajarkan aku kalau aku harus menghormatinya, karena tanpa dia keluarga ini tidak tahu sudah jadi apa. Namun orang gila, bagi mereka tetap gila. Perkataanku, pikiranku, semua tak penting. Aku mati-matian mencari universitas paling murah sedunia agar bisa mnegurangi beban kakakku yang sudah sangat banyak itu. Aku hanya katakana kalau aku tidak mau merepotkan, aku akan cari yang murah. Lalu baik Kakakku maupun Ibuku yang menyuruhku jangan menambah bebanku, malah mengatakan kalau aku terlalu banyak berpikir, aku akan gila. Itu sama saja dengan menganggap aku sudah gila. Padahal aku tidak mengerti, apa sih yang gila dari sebuah rasa perhatian?

Karena itu, aku tidak akan pernah mau bicara lagi. Aku takkan pernah ceritakan apapun yang aku pikirkan lagi, sebelum aku benar-benar dikira gila karena terlalu banyak memikirkan orang lain. Sebelum sesuatu yang baik menjadi semakin buruk, lebih baik aku diam saja. Tetap bersembunyi dalam ketertutupan. Berhenti bicara.