Hope that I could be the one who do not think very much about other's feels. I just wanna concentrate to what the voice within myself talk about. Surely, that day will come, soon.
Monday, 4 June 2012
Inspirational quote
Hope that I could be the one who do not think very much about other's feels. I just wanna concentrate to what the voice within myself talk about. Surely, that day will come, soon.
Perspektif
Satu hal yang aku tak mengerti dari dunia ini: mengapa kita harus selalu hidup dalam kurungan perspektif kalangan mayoritas?
Ya, manusia itu makhluk sosial. Takkan mungkin seorang manusia bisa hidup di dunia, seorang diri, tanpa mengenal siapapun dan bergantung pada siapapun. Manusia butuh teman, untuk membantunya di saat sulit, menemaninya di saat suka dan duka. Manusia butuh orang - orang lain, baik yang dikenal ataupun tidak dikenal, untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Ya, memang seperti itu adanya. Namun, manusia adalah makhluk yang memiliki alam pikirannya sendiri. Masing - masing manusia miliki satu alam pikiran, dan itu membuatnya memiliki cara pandang sendiri. Setiap manusia berbeda - beda, dan bayangkan dalam kehidupan sosialis kita dimana banyak manusia hidup bersama membentuk suatu kelompok sendiri, akan ada banyak sekali cara pandang yang berbeda - beda dan itu akan menghasilkan perspektif – perspektif, yang sesungguhnya hanya dimiliki kalangan mayoritas, yang membuat manusia hidup seolah – olah di dalam “penjara aturan”.
Kemarin – kemarin dulu, entah kapan tepatnya, aku diberi perspektif bahwa orang yang baru saja putus dengan pacarnya tidak sebaiknya langsung memiliki orang lain yang baru lagi yang mengisi hatinya. Dan aku juga pernah diberi sebuah perspektif bahwa seorang perempuan tidaklah baik kalau menyatakan dengan terang – terangan perasaan yang dimilikinya kepada laki – laki yang disukainya. Aku juga pernah diberikan perspektif bahwa seseorang, apalagi perempuan, yang baru saja putus dari pacarnya langsung mendapatkan yang baru lagi, itu juga sangat tercela.
Aku yang dulu, peduli setan dengan semua perspektif – perspektif itu. Tapi kini, akulah orang yang merasakan hal – hal yang tak boleh dirasakan tersebut, jadi aku bimbang. Kebimbangan ini bukan karena gundah atas pandangan perspektif yang dimiliki kalangan mayoritas itu. Aku gundah justru karena perspektif itu sudah merasuki alam pikiranku cukup dalam, dan kini aku tak berani berperang dengan diriku sendiri. Aku menyukai seseorang, ya, aku menyukainya. Selayaknya aku menyukai mantan kekasihku sebelumnya, aku menyukai orang ini dengan sangat polos sampai pertanyaan sejenis“mengapa kau menyukainya?” seperti ini saja tak mampu ku jawab. Aku rasa cinta memanglah suatu hal yang tak memiliki alasan, maka itu aku yakin aku benar – benar menyukainya. Yang menjadi permasalahan adalah: hatiku tak mengijinkannya.
Sesungguhnya, memang tidak seharusnya aku miliki perasaan ini. Karena ini hanyalah sebuah perasaan suka yang takkan pernah terbalaskan (tentu saja sebenarnya tak pernah juga kuharapkan balasan). Namun karena hatiku terus berperang dengan semua perspektif – perspektif persetan itu, aku jadi gundah, dan sesungguhnya kegundahan ini memperbesar rasa suka itu, yang semestinya biasa – biasa saja.
Hmm, semestinya? Ya, semestinya. Lalu apa sesungguhnya semestinya itu? Lagi – lagi, perspektif.
Beijing, 5 Juni 2012, 12: 58 P.M, Building Three Tsinghua University
New World
Semilir angin mendesah melewati daun telinga
Nengingatkan diri pada masa yang lalu
Pernah ada begitu nyata, suatu kasih asmara yang menggelora
Yang kini, telah buyar, sirna tertelan waktu
Aku membiarkan kisah indah oitu terbawa pergi oleh sang angin
Mungkin sesungguhnya aku membuangnya
aku tak inginkan lagi
Aku kerahkan seluruh keberanian yang ada, untuk membuang segalanya
Tapi tahukah engkau, sayangku, bahwa meninggalkan juga sesuatu yang menyakitkan?
Boleh saja engkau meronta dengan isak tangis di wajahmu,
dan aku menatapi itu dengan tatapan mata yang membeku
Namun sesungguhnya hatiku tersayat
Tuk tinggalkan sesuatu yang pernah indah,
namun sekejap sirna dari hadapan mata
Tak seberapa sesungguhnya, sakit ini,
bila dibandingkan dengan sakit saat engkau tusukan belati ke jiwaku
Aku kini berdiri di bebatuan yang tak kunjung mengistirahatkan diri dari sapuan ombak
Mencoba tegar, dan aku yakin aku mampu bertahan
Karena, pernah ada suatu kisah yang indah,
entah itu nyata ataupun hanya sebuah khayalan
Takkan ada dendam dan benci, sayangku
Karena sesungguhnya memori indah itu sungguh pernah ada
Kini kau dan aku berjalan di dua jalan setapak di sudut dunia yang berbeda
Kau dan aku, ku yakini, akan tegar di dunia yang baru.
Beijing, 1 Juni 2012, 12: 14 P.M, Bulding Six Tsinghua University
Wednesday, 30 November 2011
Berguru Ke Daratan China, Sebuah Pelajaran Baru dalam Hidup
Postingan ini pastinya merupakan postingan yang jaraknya terjauh dari postingan sebelumnya. Ya, beberapa tahun telah berlalu dan aku telah mengalami banyak perubahan yang aku sendiri tak tahu bagaimana mendeskripsikannya.
Kemarin dahulu, di saat pertama kali halaman blog ini dibuat dan aku sebagai penggunanya masih sangat aktif dalam meng-update halaman ini, itu adalah dimana aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu, aku adalah seorang gadis yang bersekolah di sekolah khusus wanita yang berdiri di tengah ibukota, SMA Santa Ursula, Jalan Pos no. 2, Jakarta Pusat). Itu adalah sebuah sekolah yang telah berusia 150 tahun, sekolah super ketat dan berdisiplin tinggi, disertai dengan tugas - tugas dan ujian yang menyiksa. Banyak sekali yang aku alami disana, terlalu banyak, sampai - sampai aku yang saat itu beranggapan kalau lika - liku kehidupan telah sebagian aku hadapi di sana. Lulus dari sana, aku berguru ke daratan Cina. Pada awalnya aku berangkat, aku seorang diri. Dari awal pendaftaran, sampai pengepakan barang, sampai pesawat mendarat di daratan Cina, aku seorang diri, dan aku tidak takut atau cemas akan apapun saat itu karena terlalu banyak yang terjadi sampai - sampai aku berpikir aku sudah memiliki banyak pengalaman yang berarti dan aku sama sekali tidak perlu khawatir akan bertemu kesulitan apapun.
Namun setelah sampai di sini, aku berubah pikiran. Hal - hal yang aku alami dahulu, semuanya hanyalah sebuah batu keirikil kecil di jalan raya, yang bahkan untuk membuat tersandung sebuah roda sepeda saja tak mempan. Sampai d sini, kelas yang awalnya aku kira merupakan sebuah modal untuk preparation kuliah sama sekali tidah berguna. Aku harus mendaftar sendiri sebuah ujian (HSK) demi bisa mendaftarkan diri ke universitas. Namun karena aku sudah terlanjur membayar uang sekolah satu semester untuk kelas yang tadinya aku kira sebagai modal tersebut, aku harus mengikuti dua kelas dalam sekaligus. Setelah menyelesaikan syarat pertama untuk ke universitas, aku melangkah ke step kedua. Aku harus mengikuti kelas persiapan untuk ujian masuk. Sekolah itu sebuah sekolah kecil, didirikan oleh seorang pria Korea lulusan Peking University. Pelajaran yang harus dipelajari tak banyak, namun aku harus benar - benar belajar ekstra saat itu. Karena, pada dasarnya anak - anak luar negeri yang datang belajar di universitas China adalah mereka yang telah tinggal lama dan minimal menerima ilmu dari sekolah menengah di China. Sebagai siswa yang baru saja memperlancar bahasa mandarinnya dan sangat ingin mengejar timing dimana tahun depan dapat masuk universitas, aku harus berusaha keras mengejar ketinggalan yang terlalu jauh tersebut. Kelasku dimulai pukul 9 pagi, sedikit lebih siang dari waktu aku duduk di bangku SMA. Sampai pukul 12.10, kami diberi waktu makan siang. Kelas dimulai kembali pukul ! siang, lalu terus sampai pukul 6 petang. Makan malam satu jam waktunya diberikan untuk kami dan pukul 7 malam, guru instruktur sudah harus melihat batang hidung kita di kelas untuk mengikuti program "Belajar Sendiri". Ini bukan sebuah sistem simpel dimana siswa duduk di kelas dan membaca bahan sendiri. Ini adalah situasi dimana siswa harus duduk belajar dan di depanmu akan duduk seorang instruktur yang mengawasi apakah kau benar - benar belajar. Ini bukanlah suatu hal yang menyedihkan, tapi minimal ini sangat langka di Indonesia. Aku rasa, apabila orang Korea datang ke Indonesia dan membuka sekolah seperti ini, sekolah itu dalam 2 hari saja sudah porak poranda oleh orang tua murid.
Aku bertemu beberapa hal menarik, tapi saat bertemu dengannya aku benar - benar menyedihkan. Sekolah kecil menyedihkan itu awalnya tak ada kemampuan memperpanjang visaku. Untung sajapada akhirnya masalah terselesaikan (meski dengan biaya tinggi). Lalu Aku punya kesulitan dalam tempat tinggal. Aku tak bisa tinggal di dorm manapun karena aku bukan murid universitas. Aku harus mencari apartement tapi itu mahal sekali. Untung pada akhirnya aku bisa menemukan teman untuk share tempat tinggal denganku. Sampai waktunya pulang pertama kali ke Indonesia pada tahun pertama berguru keluar, aku mendapat masalah dalam pemesanan tiket. Namaku tak sesuai dengan passportku dan aku hanya bisa membatalkan penerbangan dan membeli tiket baru. Semuanya terjadi saat aku benar - benar sendiri dan tak tahu harus bagaimana. Sekarang saat aku berbalik melihat apa yang terjadi, benar - benar semua itu adalah hal - hal baru yang menarik.
Masoh banyak lagi yang terjadi. Sekarang aku sudah duduk di tahun kedua universitas. Tahun pertama, aku juga kembali berhadapan dengan banyak masalah. Tapi semua itu adalah pelajaran berguna untuk di masa datang nanti.
Kemarin dahulu, di saat pertama kali halaman blog ini dibuat dan aku sebagai penggunanya masih sangat aktif dalam meng-update halaman ini, itu adalah dimana aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu, aku adalah seorang gadis yang bersekolah di sekolah khusus wanita yang berdiri di tengah ibukota, SMA Santa Ursula, Jalan Pos no. 2, Jakarta Pusat). Itu adalah sebuah sekolah yang telah berusia 150 tahun, sekolah super ketat dan berdisiplin tinggi, disertai dengan tugas - tugas dan ujian yang menyiksa. Banyak sekali yang aku alami disana, terlalu banyak, sampai - sampai aku yang saat itu beranggapan kalau lika - liku kehidupan telah sebagian aku hadapi di sana. Lulus dari sana, aku berguru ke daratan Cina. Pada awalnya aku berangkat, aku seorang diri. Dari awal pendaftaran, sampai pengepakan barang, sampai pesawat mendarat di daratan Cina, aku seorang diri, dan aku tidak takut atau cemas akan apapun saat itu karena terlalu banyak yang terjadi sampai - sampai aku berpikir aku sudah memiliki banyak pengalaman yang berarti dan aku sama sekali tidak perlu khawatir akan bertemu kesulitan apapun.
Namun setelah sampai di sini, aku berubah pikiran. Hal - hal yang aku alami dahulu, semuanya hanyalah sebuah batu keirikil kecil di jalan raya, yang bahkan untuk membuat tersandung sebuah roda sepeda saja tak mempan. Sampai d sini, kelas yang awalnya aku kira merupakan sebuah modal untuk preparation kuliah sama sekali tidah berguna. Aku harus mendaftar sendiri sebuah ujian (HSK) demi bisa mendaftarkan diri ke universitas. Namun karena aku sudah terlanjur membayar uang sekolah satu semester untuk kelas yang tadinya aku kira sebagai modal tersebut, aku harus mengikuti dua kelas dalam sekaligus. Setelah menyelesaikan syarat pertama untuk ke universitas, aku melangkah ke step kedua. Aku harus mengikuti kelas persiapan untuk ujian masuk. Sekolah itu sebuah sekolah kecil, didirikan oleh seorang pria Korea lulusan Peking University. Pelajaran yang harus dipelajari tak banyak, namun aku harus benar - benar belajar ekstra saat itu. Karena, pada dasarnya anak - anak luar negeri yang datang belajar di universitas China adalah mereka yang telah tinggal lama dan minimal menerima ilmu dari sekolah menengah di China. Sebagai siswa yang baru saja memperlancar bahasa mandarinnya dan sangat ingin mengejar timing dimana tahun depan dapat masuk universitas, aku harus berusaha keras mengejar ketinggalan yang terlalu jauh tersebut. Kelasku dimulai pukul 9 pagi, sedikit lebih siang dari waktu aku duduk di bangku SMA. Sampai pukul 12.10, kami diberi waktu makan siang. Kelas dimulai kembali pukul ! siang, lalu terus sampai pukul 6 petang. Makan malam satu jam waktunya diberikan untuk kami dan pukul 7 malam, guru instruktur sudah harus melihat batang hidung kita di kelas untuk mengikuti program "Belajar Sendiri". Ini bukan sebuah sistem simpel dimana siswa duduk di kelas dan membaca bahan sendiri. Ini adalah situasi dimana siswa harus duduk belajar dan di depanmu akan duduk seorang instruktur yang mengawasi apakah kau benar - benar belajar. Ini bukanlah suatu hal yang menyedihkan, tapi minimal ini sangat langka di Indonesia. Aku rasa, apabila orang Korea datang ke Indonesia dan membuka sekolah seperti ini, sekolah itu dalam 2 hari saja sudah porak poranda oleh orang tua murid.
Aku bertemu beberapa hal menarik, tapi saat bertemu dengannya aku benar - benar menyedihkan. Sekolah kecil menyedihkan itu awalnya tak ada kemampuan memperpanjang visaku. Untung sajapada akhirnya masalah terselesaikan (meski dengan biaya tinggi). Lalu Aku punya kesulitan dalam tempat tinggal. Aku tak bisa tinggal di dorm manapun karena aku bukan murid universitas. Aku harus mencari apartement tapi itu mahal sekali. Untung pada akhirnya aku bisa menemukan teman untuk share tempat tinggal denganku. Sampai waktunya pulang pertama kali ke Indonesia pada tahun pertama berguru keluar, aku mendapat masalah dalam pemesanan tiket. Namaku tak sesuai dengan passportku dan aku hanya bisa membatalkan penerbangan dan membeli tiket baru. Semuanya terjadi saat aku benar - benar sendiri dan tak tahu harus bagaimana. Sekarang saat aku berbalik melihat apa yang terjadi, benar - benar semua itu adalah hal - hal baru yang menarik.
Masoh banyak lagi yang terjadi. Sekarang aku sudah duduk di tahun kedua universitas. Tahun pertama, aku juga kembali berhadapan dengan banyak masalah. Tapi semua itu adalah pelajaran berguna untuk di masa datang nanti.
Tuesday, 25 August 2009
Teman Istimewa
Tak pernah sebelumnya aku mengalami hal ini dan aku juga tidak pernah menyangka bahwa seorang diriku, bisa mengalami hal sepert ini juga. Kemarin dulu, meskipun pernah beberapa kali jatuh cinta, tak pernah sebelumnya seperti ini.
Dulu aku bisa mencintai seseorang, tapi aku bisa dengan mudahnya mengontrol diri. Suka ya suka, kalau dia tidak memberikan tanda – tanda bahwa dia merasakan hal yang sama, aku sama sekali tidak akan memperdulikan perasaanku itu lagi. Sifatku yang cuek, super dingin ini membuatku dengan mudahnya untuk tidak memperdulikan semua itu. Bahkan tak pernah sekalipun aku melakukan pendekatan sedikitpun demi mendapatkan orang yang kucintai. That’s why, aku tak pernah bisa pacaran dengan orang yang aku suka.
Tapi kali ini berbeda.mungkin karena orang yang disukai adalah orang yang polos. Tidak tahu kenapa, aku jadi berubah 180. Aku yang dulunya selalu menghindari orang yang aku suka, sekarang malah berani mendekati. Bahkan aku bisa, dari teman biasa jadi teman dekat. Yah, sangat berbeda.
Namun, sekarang aku sudah kembali ke aku yang dulu, aku yang asli. Dan aku tidak akan pernah begitu lagi. Karena biarpun aku melakukan cara yang berbeda dalam menyukai orang lain, hasilnya tetap saja sama. Memang aku bisa menjadi teman dekatnya, tapi yah sebatas itu saja. Dia juga pernah menyukaiku, tapi ternyata hanya suka sesaat. Jadi, sama saja kan? Haha, selalu saja teman – temanku bilang aku payah dalam percintaan. Setiap menyukai seseorang aku terlalu cuek. Tapi sekarang sudah ada bukti nyata. Tidak cuek pun, sama saja hasilnya.
Dia itu seorang teman yang istimewa. Dia mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan. Dia juga mengajarkan aku menjadi kuat dan menyadari segala hal yang ada di sekelilingku. Aku tak pernah bisa membuka inderaku lebar – lebar, sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Yah, aku senang sekali punya teman dekat seperti dia. Saat ini, aku pikir, tidak jadi milikku pun taka pa. mungkin memang dia ditakdirkan untuk dating ke kehidupanku, dan menjadi teman yang mengajarkanku banyak hal.
Aku dan dia sama – sama memiliki impian. Aku hampir saja melupakan impianku itu selama beberapa saat, saat perasaan cintaku menguat padanya. Tapi dia juga lah yang telah membuatku ingat kembali pada impianku. Aku sudah bertekad. Aku takkan memikirkan hal – hal tidak penting (seperti cinta) sebelum meraih impianku. Jadi, yah, aku yang dulu telah kembali. Aku yang dingin, dan hanya memikirkan impian – impianku! He9x…
Dulu aku bisa mencintai seseorang, tapi aku bisa dengan mudahnya mengontrol diri. Suka ya suka, kalau dia tidak memberikan tanda – tanda bahwa dia merasakan hal yang sama, aku sama sekali tidak akan memperdulikan perasaanku itu lagi. Sifatku yang cuek, super dingin ini membuatku dengan mudahnya untuk tidak memperdulikan semua itu. Bahkan tak pernah sekalipun aku melakukan pendekatan sedikitpun demi mendapatkan orang yang kucintai. That’s why, aku tak pernah bisa pacaran dengan orang yang aku suka.
Tapi kali ini berbeda.mungkin karena orang yang disukai adalah orang yang polos. Tidak tahu kenapa, aku jadi berubah 180. Aku yang dulunya selalu menghindari orang yang aku suka, sekarang malah berani mendekati. Bahkan aku bisa, dari teman biasa jadi teman dekat. Yah, sangat berbeda.
Namun, sekarang aku sudah kembali ke aku yang dulu, aku yang asli. Dan aku tidak akan pernah begitu lagi. Karena biarpun aku melakukan cara yang berbeda dalam menyukai orang lain, hasilnya tetap saja sama. Memang aku bisa menjadi teman dekatnya, tapi yah sebatas itu saja. Dia juga pernah menyukaiku, tapi ternyata hanya suka sesaat. Jadi, sama saja kan? Haha, selalu saja teman – temanku bilang aku payah dalam percintaan. Setiap menyukai seseorang aku terlalu cuek. Tapi sekarang sudah ada bukti nyata. Tidak cuek pun, sama saja hasilnya.
Dia itu seorang teman yang istimewa. Dia mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan. Dia juga mengajarkan aku menjadi kuat dan menyadari segala hal yang ada di sekelilingku. Aku tak pernah bisa membuka inderaku lebar – lebar, sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Yah, aku senang sekali punya teman dekat seperti dia. Saat ini, aku pikir, tidak jadi milikku pun taka pa. mungkin memang dia ditakdirkan untuk dating ke kehidupanku, dan menjadi teman yang mengajarkanku banyak hal.
Aku dan dia sama – sama memiliki impian. Aku hampir saja melupakan impianku itu selama beberapa saat, saat perasaan cintaku menguat padanya. Tapi dia juga lah yang telah membuatku ingat kembali pada impianku. Aku sudah bertekad. Aku takkan memikirkan hal – hal tidak penting (seperti cinta) sebelum meraih impianku. Jadi, yah, aku yang dulu telah kembali. Aku yang dingin, dan hanya memikirkan impian – impianku! He9x…
Saturday, 25 April 2009
AKU TAK SUKA DIFITNAH!!
Ya, kalau lihat judulnya, pasti sudah tahu apa yang sedang ingin aku bicarakan. Masalah terbesar dan yang akan membuatku benar – benar jatuh dari ketinggian, yaitu fitnah. Semenjak masuk SMA aku baru benar – benar tahu bagaimana rasanya difitnah. Bertubi – tubi pula. Rasanya tidak habis – habis. Dan itu menyebabkan aku rapuh luar dalam, tak bisa mengontrol diriku sendiri.
Kadang orang berkata, kalau terlalu tertutup malahan suatu hari nanti akan ada saat dimana perasaan yang selama ini ditutupi itu tak bisa tertahankan lagi dan semuanya keluar. Seringkali hal itu terjadi di saat yang tidak tepat, jadi keluar ke orang yang salah. Mungkin seperti saat ini.
Selama dua tahun ini tidak tahu apa – apa, tiba – tiba semua terbongkar dan terasa sakit sekali. Selama dua tahun ini ternyata aku sangat sering difitnah, dari hal yang sepele, sampai hal yang besar, yang menyebabkan image orang terhadapku jadi buruk. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh satu orang, yang sesungguhnya sangat berarti bagiku. Aku tak bisa bohong kalau aku sama sekali tidak peduli pada semua itu. Biarpun dingin dan tertutup, lalu bersikap cuek pada segala hal, tapi aku bukan seseorang yang mati rasa. Dalam hatiku, rasa sakit itu benar – benar terasa, luka yang sangat mendalam. Dan itulah yang mengganggu pikiranku terus – terusan. Kadang aku tak bisa tahan dan ingin mencari seseorang untuk berbagi. Tapi, aku tahu, aku yang tertutup sangat sulit bisa menceritakan apa yang aku rasakan pada orang lain. Tidak tahu apa yang salah, aku yang bodoh, atau memang tak punya kemampuan untuk itu, aku selalu gagal menyampaikan perasaanku pada orang lain. jangankan teman baik, bahkan keluarga pun kadang tak bisa mengerti. Pernah beberapa kali aku menceritakan beberapa hal pada mereka. Lalu mereka menganggap aku ini tipe manusia manipulatif yang menceritakan hal – hal mengenai diriku, yang kelihatannya begitu kasihan, sesungguhnya aku hanya mengarang saja. Mereka malah takut aku lama – lama bisa jadi gila gara – gara sifat “manipulatif”-ku ini. sedikitpun mereka tak pernah mau tahu, tak mau menanggapi, kalau yang aku ceritakan itu benar – benar dari dalam perasaanku.
Hari ini, puncak segala – galanya. Segalanya semakin terkuak. Semua mengenai fitnahan yang dilontarkan orang itu padaku. Dan itu membuat luka di hatiku semakin lama semakin dalam, semakin terasa sakit. Aku ingin berteriak, tapi aku benar – benar takut dikira gila. Mau aku ceritakan juga aku tak bisa. Lalu sekali aku melakukan kesalahan yang tak sengaja kulakukan, aku dimarahi keluargaku. Aku sudah jelaskan, tapi mereka terus – terusan memarahiku. Aku tahu maksudnya menasehatiku, tapi mereka menasehati karea menganggap aku ini benar – benar orang dungu yang pasti selalu melakukan kebodohan itu secara sengaja. Aku sangat tidak tahan. Itu, tak ada bedanya sama sekali dengan fitnah. Merka memfitnah! Mereka tak mau dengar penjelasanku. Anaknya yang gila ini selalu tak punya alasan yang kuat. Yah, itu menurut mereka. Dan, yah, salahlah semuanya. Aku tak tahan. Aku marah. Aku marah karena panah fitnah sepertinya selalu datang menghampiriku. Semuanya keluar begitu saja, tak bisa kukontrol diriku sendiri. Sialnya aku malah berkata “aku paling tidak suka dibilang melakukan hal yang tidak kulakukan, aku tak suka!”, yah bodoh sekali, Indira Melik. Kau bodoh. Aku yakin sekarang aku benar – benar disangka gila oleh keluargaku. Anak gila yang kerjanya hanya marah – marah karena masalah sepele.
Sekarang semuanya serba salah. Jadi orang yang terbuka seperti aku yang dulu, aku yang asli, akan mendatangkan bencana bagiku. Tapi menjadi tertutup malah dikira gila. Lalu, aku harusnya jadi yang seperti apa?
Kadang orang berkata, kalau terlalu tertutup malahan suatu hari nanti akan ada saat dimana perasaan yang selama ini ditutupi itu tak bisa tertahankan lagi dan semuanya keluar. Seringkali hal itu terjadi di saat yang tidak tepat, jadi keluar ke orang yang salah. Mungkin seperti saat ini.
Selama dua tahun ini tidak tahu apa – apa, tiba – tiba semua terbongkar dan terasa sakit sekali. Selama dua tahun ini ternyata aku sangat sering difitnah, dari hal yang sepele, sampai hal yang besar, yang menyebabkan image orang terhadapku jadi buruk. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh satu orang, yang sesungguhnya sangat berarti bagiku. Aku tak bisa bohong kalau aku sama sekali tidak peduli pada semua itu. Biarpun dingin dan tertutup, lalu bersikap cuek pada segala hal, tapi aku bukan seseorang yang mati rasa. Dalam hatiku, rasa sakit itu benar – benar terasa, luka yang sangat mendalam. Dan itulah yang mengganggu pikiranku terus – terusan. Kadang aku tak bisa tahan dan ingin mencari seseorang untuk berbagi. Tapi, aku tahu, aku yang tertutup sangat sulit bisa menceritakan apa yang aku rasakan pada orang lain. Tidak tahu apa yang salah, aku yang bodoh, atau memang tak punya kemampuan untuk itu, aku selalu gagal menyampaikan perasaanku pada orang lain. jangankan teman baik, bahkan keluarga pun kadang tak bisa mengerti. Pernah beberapa kali aku menceritakan beberapa hal pada mereka. Lalu mereka menganggap aku ini tipe manusia manipulatif yang menceritakan hal – hal mengenai diriku, yang kelihatannya begitu kasihan, sesungguhnya aku hanya mengarang saja. Mereka malah takut aku lama – lama bisa jadi gila gara – gara sifat “manipulatif”-ku ini. sedikitpun mereka tak pernah mau tahu, tak mau menanggapi, kalau yang aku ceritakan itu benar – benar dari dalam perasaanku.
Hari ini, puncak segala – galanya. Segalanya semakin terkuak. Semua mengenai fitnahan yang dilontarkan orang itu padaku. Dan itu membuat luka di hatiku semakin lama semakin dalam, semakin terasa sakit. Aku ingin berteriak, tapi aku benar – benar takut dikira gila. Mau aku ceritakan juga aku tak bisa. Lalu sekali aku melakukan kesalahan yang tak sengaja kulakukan, aku dimarahi keluargaku. Aku sudah jelaskan, tapi mereka terus – terusan memarahiku. Aku tahu maksudnya menasehatiku, tapi mereka menasehati karea menganggap aku ini benar – benar orang dungu yang pasti selalu melakukan kebodohan itu secara sengaja. Aku sangat tidak tahan. Itu, tak ada bedanya sama sekali dengan fitnah. Merka memfitnah! Mereka tak mau dengar penjelasanku. Anaknya yang gila ini selalu tak punya alasan yang kuat. Yah, itu menurut mereka. Dan, yah, salahlah semuanya. Aku tak tahan. Aku marah. Aku marah karena panah fitnah sepertinya selalu datang menghampiriku. Semuanya keluar begitu saja, tak bisa kukontrol diriku sendiri. Sialnya aku malah berkata “aku paling tidak suka dibilang melakukan hal yang tidak kulakukan, aku tak suka!”, yah bodoh sekali, Indira Melik. Kau bodoh. Aku yakin sekarang aku benar – benar disangka gila oleh keluargaku. Anak gila yang kerjanya hanya marah – marah karena masalah sepele.
Sekarang semuanya serba salah. Jadi orang yang terbuka seperti aku yang dulu, aku yang asli, akan mendatangkan bencana bagiku. Tapi menjadi tertutup malah dikira gila. Lalu, aku harusnya jadi yang seperti apa?
Keuntungan di Balik Kejahatan
Aku sungguh tak mengerti apa yang pernah terjadi di kehidupanku yang lalu sehingga pada kehidupan ini, sekarang ini, harus berhadapan dengan berbagai masalah rumit yang ternyata bersumber dari satu orang. Kalau saja aku punya Pubenivasanussatinanna, aku sangat ingin melihat apa yang terjadi di kehidupan yang lalu dan aku yakin aku akan mendapatkan jawaban dari semua yang terjadi sekarang ini. sayangnya, aku hanya seorang umat awam yang tak punya sedikitpun jhana untuk melihat semua itu.
Seseorang, yang hampir dua tahun sangat dekat denganku dan memiliki arti yang sesungguhnya sangat penting untukku, malahan ternyata adalah biang dari segala masalah yang selalu bertubi – tubi terjadi dua tahun belakangan ini.
“Indira itu tak punya teman, dia itu disebelin teman – teman sekelas, teman baiknya itu juga semua orang – orang kasar yang suka berteriak – teriak, sangat menyeramkan, dia itu jahat sesungguhnya, hatinya jahat. Aku sangat kasihan padanya, makanya aku mau berteman dengannya dan bersabar dengannya.” Itu yang dia katakan pada orang – orang. Dia ini seseorang yang sangat persuasif dan sangat lihai membuat orang percaya pada semua omongannya. Saat aku masih buta dan dekat dengannya, lalu sepenuhnya percaya padanya, aku ini benar – benar diyakinkan bahwa aku adalah seorang menyebalkan yang berkarma buruk, maka dari itu sangat banyak orang yang tidak suka padaku dan teman – teman yang dekat padaku sesungguhnya hanya karena kasihan padaku. Aku juga diyakinkan untuk menjauhi beberapa orang yang tadinya tak terlalu dekat denganku dan katanya mereka jahat padaku. Yah, saat itu aku memang sangat bodoh, tapi kenapa juga harus ada orang seperti itu di dunia?
Pada detik ini dia akan mempublikasikan kata – kata itu ke semua orang, lalu pada deitk yang sama pula dia akan mengatakan padaku bahwa si A atau si B atau si C atau siapapun itu berbuat banyak hal yang jahat padaku. Sesungguhnya apa keuntungan yang dia dapat dari itu semua? Apa? Aku sangat ingin bertanya padanya, tapi bagaimana? Aku terlalu bodoh dan tertutup untuk mengungkap kenyataan.
Seseorang, yang hampir dua tahun sangat dekat denganku dan memiliki arti yang sesungguhnya sangat penting untukku, malahan ternyata adalah biang dari segala masalah yang selalu bertubi – tubi terjadi dua tahun belakangan ini.
“Indira itu tak punya teman, dia itu disebelin teman – teman sekelas, teman baiknya itu juga semua orang – orang kasar yang suka berteriak – teriak, sangat menyeramkan, dia itu jahat sesungguhnya, hatinya jahat. Aku sangat kasihan padanya, makanya aku mau berteman dengannya dan bersabar dengannya.” Itu yang dia katakan pada orang – orang. Dia ini seseorang yang sangat persuasif dan sangat lihai membuat orang percaya pada semua omongannya. Saat aku masih buta dan dekat dengannya, lalu sepenuhnya percaya padanya, aku ini benar – benar diyakinkan bahwa aku adalah seorang menyebalkan yang berkarma buruk, maka dari itu sangat banyak orang yang tidak suka padaku dan teman – teman yang dekat padaku sesungguhnya hanya karena kasihan padaku. Aku juga diyakinkan untuk menjauhi beberapa orang yang tadinya tak terlalu dekat denganku dan katanya mereka jahat padaku. Yah, saat itu aku memang sangat bodoh, tapi kenapa juga harus ada orang seperti itu di dunia?
Pada detik ini dia akan mempublikasikan kata – kata itu ke semua orang, lalu pada deitk yang sama pula dia akan mengatakan padaku bahwa si A atau si B atau si C atau siapapun itu berbuat banyak hal yang jahat padaku. Sesungguhnya apa keuntungan yang dia dapat dari itu semua? Apa? Aku sangat ingin bertanya padanya, tapi bagaimana? Aku terlalu bodoh dan tertutup untuk mengungkap kenyataan.
Subscribe to:
Posts (Atom)